
Ujian tengah semester tinggal beberapa minggu, dan sekolah memutuskan kali ini ujiannya dijalankan online. Pertanyaan pertama yang muncul di rapat hampir selalu sama: pakai aplikasi apa.
Itu pertanyaan yang paling mudah dijawab, dan paling tidak menentukan. Yang menentukan adalah keputusan-keputusan kecil yang tidak muncul di daftar fitur mana pun, dan hampir semuanya baru terasa akibatnya setelah ujiannya berlangsung.
Tulisan ini membahas keputusan-keputusan itu, berurutan seperti ujian online itu sendiri berjalan — sebelum, hari-H, dan sesudah. Sebagian besar berlaku di aplikasi apa pun yang Anda pilih.
Sebelum: siapa yang menempuh
Ujian disiapkan berminggu-minggu sebelum hari-H. Kelasnya tidak berhenti berubah selama itu — ada yang pindah rombel, ada yang baru masuk, ada yang mengundurkan diri.
Maka ada dua cara menyebut peserta, dan keduanya kelihatan sama sampai ada yang pindah: menuliskan daftar namanya, atau menyebut kelasnya. Daftar nama dibekukan pada hari ia dibuat. Menyebut kelas berarti isinya ditanyakan ulang setiap kali dibutuhkan — waktu undangan dikirim, waktu pintu ujian dibuka, waktu Anda memeriksa siapa yang belum mengerjakan.
Untuk ujian satu mata pelajaran, pesertanya bisa seluruh kelas atau sebagian siswa yang ditunjuk. Untuk ujian sekolah yang lintas rombel, penyebutannya bisa gabungan: siswa tertentu, satu rombel, satu jenjang beserta seluruh cabang di bawahnya, atau penyaring seperti tingkat kelas dan tahun masuk.
Yang perlu diperiksa: kalau seorang siswa masuk kelas itu minggu depan, apakah dia otomatis ikut? Kalau jawabannya tidak, seseorang harus ingat menambahkannya, dan pada hari ujian tidak ada yang ingat.
Sebelum: soal mana yang bisa dinilai mesin
Ini bagian yang paling sering disalahpahami, dan akibatnya paling mahal — karena harapan tentang "koreksi otomatis" dibentuk sebelum orang tahu batasnya.
Ada tiga jenis soal, dan hanya dua yang bisa dinilai tanpa manusia.
Pilihan ganda dinilai seketika. Tidak ada yang perlu didiskusikan.
Isian singkat dinilai dengan mencocokkan jawaban ke kunci. Di sinilah letak masalah yang tidak kelihatan: siswa menulis "Ir. Soekarno", kuncinya "Soekarno", dan mesin menyebutnya salah. Karena itu satu soal isian boleh punya beberapa kunci yang sama-sama diterima, dan pembandingannya mengabaikan hal-hal yang bukan pengetahuan — huruf besar-kecil, spasi berlebih, titik atau tanda tanya di ujung kalimat.
Tetap saja itu tidak cukup, jadi ada tiga cara memperlakukan isian singkat, dan pilihan tengahnya yang paling masuk akal untuk kebanyakan sekolah: dinilai otomatis, tetapi setiap jawaban yang dinyatakan salah ditandai untuk dilihat manusia. Yang benar lewat begitu saja; yang salah menunggu Anda. Sebab jawaban isian yang dinyatakan salah oleh mesin bisa jadi variasi penulisan dan bukan kesalahan pengetahuan, dan satu-satunya yang bisa membedakan keduanya adalah guru yang mengajar bab itu.
Uraian tidak pernah dinilai mesin. Ia selalu menunggu manusia.
Akibatnya ada satu hal yang perlu diketahui sebelum menyusun soal: selama masih ada uraian yang belum diperiksa, nilai siswa itu belum ada. Bukan nol, bukan nilai sementara — belum ada. Nilai sebagian bukan nilai akhir, dan menampilkannya seolah-olah nilai akhir akan membuat separuh kelas terlihat gagal pada sore hari ujian.
Yang perlu diputuskan: berapa banyak uraian yang sanggup diperiksa dalam tenggat yang Anda janjikan ke wali murid. Itu batasan yang nyata, dan ia menentukan bentuk soal — bukan sebaliknya.
Hari-H: dua jenis waktu yang sering tertukar
Keduanya terdengar seperti hal yang sama dan bukan.
Durasi pengerjaan adalah berapa lama seorang siswa punya waktu setelah ia mulai. Sembilan puluh menit, dihitung dari klik pertamanya.
Jendela ujian adalah kapan ujian itu boleh dimulai sama sekali. Senin pukul 07.30 sampai 09.30, misalnya.
Keduanya bersamaan, dan yang lebih dulu tiba yang berlaku. Siswa yang membuka ujian sembilan puluh menit pada pukul 09.29 tidak mendapat waktu sampai pukul 10.59 — ujiannya tetap tutup pukul 09.30. Kalau tidak begitu, membuka ujian di menit terakhir jadi cara membeli satu jam tambahan, dan akan ada yang menemukannya.
Yang perlu diperiksa: jendela ujian sekolah Anda cukup lebar untuk siswa yang datang terlambat atau perangkatnya bermasalah, tanpa jadi cukup lebar untuk membuat pengawasan kehilangan artinya.
Hari-H: kecurangan, dan apa yang sebenarnya bisa dicegah
Bagian ini perlu dimulai dengan kalimat yang jarang ditulis penjual perangkat lunak: tidak ada aplikasi yang bisa mencegah siswa membuka tab lain, memakai perangkat kedua, atau bertanya ke temannya di ruangan sebelah. Siapa pun yang mengatakan sebaliknya sedang menjual sesuatu.
Yang bisa dilakukan hanya membuat kecurangan lebih repot daripada mengerjakan, dan itu sebagian besar soal pengaturan, bukan pengawasan.
Urutan soal diacak membuat "nomor 7 jawabannya B" tidak berarti apa-apa.
Urutan pilihan jawaban diacak membuat "jawabannya B" juga tidak berarti apa-apa. Ini pengaturan yang berbeda dari yang di atas, meski namanya mirip: mengacak urutan soal tidak mengacak pilihan di dalam soalnya.
Tetapi yang paling menentukan bukan keduanya, melainkan satu pengaturan yang jarang diperhatikan: kapan kunci jawaban ditampilkan ke siswa.
Kalau kunci muncul segera setelah mengumpulkan, dan kelas Anda menempuh ujian di dua sesi berbeda — atau bahkan hanya ada satu siswa yang selesai lebih awal lalu keluar ruangan — maka ujian itu berhenti mengukur apa pun sejak orang pertama menekan kumpulkan. Bukan karena sistemnya bocor, tapi karena Anda sendiri yang membagikan kuncinya.
Yang perlu diputuskan: kalau ujiannya serentak dan diawasi, memperlihatkan kunci setelah mengumpulkan bagus untuk belajar. Kalau ujiannya tidak serentak, jangan.
Setelah: berapa kali boleh dan mana yang dihitung
Kalau ujian boleh diulang, ada dua pertanyaan terpisah: berapa kali, dan percobaan mana yang jadi nilainya.
Yang dihitung bisa yang tertinggi, yang terakhir, yang pertama, atau rata-rata semuanya. Tidak ada yang benar secara universal — untuk latihan, yang tertinggi masuk akal; untuk ujian sungguhan, yang pertama atau yang terakhir lebih masuk akal.
Ini keputusan penilaian sekolah, bukan pengaturan teknis. Sayangnya letaknya di layar pengaturan, sehingga sering diisi oleh orang yang kebetulan membuat ujiannya.
Setelah: nilai yang kosong bukan nilai nol
Begitu ujian selesai, tabel nilainya akan penuh sel kosong, dan sel-sel itu tidak berarti hal yang sama. Ada yang belum mengumpulkan, ada yang sudah mengumpulkan tapi uraiannya menunggu diperiksa, ada yang ujiannya memang belum jatuh tempo, ada yang tidak diberi soal itu sama sekali.
Hanya satu dari empat yang layak diperlakukan sebagai nol, dan itu pun kalau sekolah Anda memutuskan demikian. Perbedaannya dibahas terpisah di Empat sebab sel nilai kosong, karena ia menentukan angka yang akhirnya masuk ke rapor.
Setelah: memeriksa soalnya, bukan cuma siswanya
Hasil ujian dibaca semua orang sebagai laporan tentang siswa. Separuhnya laporan tentang soal yang Anda tulis: butir yang tidak sempat dijawab siapa pun karena ujiannya kepanjangan, butir yang hampir semua orang salah karena kuncinya keliru, butir yang semua orang benar dan karena itu tidak memberi tahu apa-apa.
Ketiganya cuma bisa dikenali selagi Anda masih ingat kenapa tiap butir ditulis begitu, dan ingatan itu tidak bertahan sampai ujian berikutnya disusun.
Daftar periksa
Sebelum ujian online pertama di sekolah Anda, pastikan ada yang sudah menjawab delapan hal ini — di aplikasi mana pun yang dipakai:
- Peserta disebut sebagai kelas atau sebagai daftar nama, dan siapa yang bertanggung jawab memperbaruinya kalau ada siswa pindah.
- Berapa banyak soal uraian, dan siapa yang memeriksanya dalam tenggat yang dijanjikan.
- Durasi pengerjaan dan jendela ujian, dan apa yang terjadi kalau keduanya bertabrakan.
- Urutan soal diacak, urutan pilihan diacak, atau keduanya.
- Kapan kunci jawaban terlihat siswa — dan apakah semua siswa menempuhnya di waktu yang sama.
- Berapa kali boleh mengulang dan percobaan mana yang dihitung.
- Apakah sel kosong dihitung nol, dan sel kosong yang mana.
- Siapa yang boleh melihat nilai satu kelas, dan siapa yang cuma boleh melihat mata pelajarannya.
Delapan pertanyaan itu tidak butuh perangkat lunak untuk dijawab. Tapi kalau sudah dijawab sebelum hari-H, perangkat lunaknya hampir tidak pernah jadi masalah — dan kalau belum, tidak ada aplikasi yang bisa menyelamatkannya.
Afisena