AfisenaAfisena
Masuk
Kembali ke blog

Yang sudah hilang sejak Agustus

Angka penguasaan tidak tahu apa-apa soal waktu: konsep yang dikuasai minggu pertama terbaca sama persis di bulan Desember. Kenapa nasihat "pelajari semuanya lagi" adalah nasihat yang salah.

Oleh Prins Naval NuzerenBaca 3 menit

Bulan Agustus siswa itu benar-benar paham. Bulan September sudah tidak. Bukan malas, bukan pura-pura — dia memang tahu waktu itu.

Setiap guru pernah melihatnya. Yang jarang ada adalah cara mengetahuinya sebelum ujian yang memberitahu Anda.

Angka penguasaan tidak tahu apa-apa soal waktu

Kalau sebuah sistem mencatat bahwa seorang siswa menguasai suatu konsep, angka itu bergerak hanya ketika siswanya menjawab sesuatu. Tidak ada unsur waktu di dalamnya sama sekali.

Artinya konsep yang dikuasai pada minggu pertama semester akan terbaca persis sama pada bulan Desember. Perjalanan belajarnya sudah lama ditandai selesai, dan tidak ada lagi yang pernah menanyakannya.

Sistem seperti itu bisa memberitahu apa yang sudah dipelajari seorang siswa, dan tidak tahu apa-apa tentang apa yang sedang dia lupakan.

Jadi ketahanannya dihitung terpisah

Dua hal dipisah di sini, karena keduanya memang berbeda: seberapa baik sesuatu pernah dikuasai, dan seberapa lama ia bertahan.

Yang pertama datang dari jawaban siswa. Yang kedua datang dari berapa kali dia mengulanginya.

Sesuatu yang baru ditemui sekali dan langsung benar kehilangan sekitar separuh pegangannya dalam tiga hari. Setiap pengulangan berikutnya melipatgandakan jaraknya — kira-kira dua kali lipat — sampai pada satu titik konsep itu praktis sudah menetap dan tidak ada gunanya lagi ditanyakan. Batas atasnya enam bulan.

Perlu dikatakan dengan jelas: ini perkiraan, bukan pengukuran. Tidak ada yang bisa membaca isi kepala seorang anak. Yang dihitung adalah seberapa baik dia pernah menjawabnya, berapa kali, dan berapa lama sejak terakhir — lalu kurva yang sudah lama dikenal orang menerjemahkan ketiganya jadi satu tebakan yang bisa diperiksa.

Yang berubah karenanya: urutannya

Kalau daftar ulangan disusun berdasarkan yang paling lama tidak disentuh, urutannya salah.

Konsep yang sudah diulang lima kali tiga minggu lalu berada dalam kondisi jauh lebih baik daripada konsep yang dijawab sekali hari Selasa kemarin. Yang perlu didahulukan adalah yang paling pudar, bukan yang paling tua.

Dua hal lain yang sengaja tidak dilakukan:

Tidak menanyakan sesuatu yang belum pernah dikuasai. Kalau penguasaannya memang tidak pernah cukup, itu bukan lupa — itu belum selesai. Yang belum selesai urusannya mengajar, bukan mengulang. Meminta siswa "mengingat" hal yang tidak pernah dia dapatkan adalah cara membuat dia merasa bodoh atas kesalahan orang lain.

Tidak menanyakan dua kali dalam sehari. Ada jarak minimum dua belas jam. Siswa yang mengulang pagi ini dan ditanya lagi sore ini akan belajar satu hal saja: bahwa pemberitahuan itu tidak perlu dibaca.

Dan angka ringkasan di layar siswa hanya menghitung yang pernah dia kuasai. Kalau yang belum selesai ikut dihitung, angka seorang siswa yang rajin akan turun setiap kali dia memulai sesuatu yang baru — yaitu hukuman untuk maju.

Dua minggu sebelum ujian tengah semester

Nasihat yang paling sering diberikan adalah "pelajari semuanya lagi". Untuk sebagian besar siswa itu berarti membaca ulang bab yang sudah mereka kuasai, karena bab itu yang paling nyaman dibaca.

Efek jeda sudah lama diketahui: mengulang sedikit-sedikit dengan jarak jauh lebih kuat daripada satu malam panjang. Yang selama ini sulit bukan menerima gagasan itu, tapi menjawab pertanyaan lanjutannya — mengulang yang mana.

Untuk itu daftarnya sekarang ada, diurutkan dari yang paling pudar, dan panjangnya biasanya jauh lebih pendek daripada yang dikira siswanya.

Yang sudah hilang sejak Agustus — Afisena